Senin, 15 Oktober 2012

Menampilkan Perilaku Etis dan tanggung jawab social


ARTIKEL KEDUAKU

ETIKA LEBIH DARI LEGALITAS

Pada awal tahun 2000-an, public Amerika dikejutkan ketika mengetahui bahwa Enron, perusahaan dagang energy raksasa menciptakan hubungan rekanan di luar buku untuk menyembunyikan utang dan kerugian. Aib Enron tidak lama kemudian diikuti oleh lebih banyak skandal di perusahaan – perusahaan besar seperti, Worldcom, Tyco International, ImClone, HealthSouth, dan Boeing. Skandal seperti ini tidak hanya terbatas dalam perusahaan besar. Perusahaan kecil juga terkena. Sebagai contoh, Lacrad International, sebuah penerbit multimedia kecil, mengakui bahwa perusahaan tersebut telah berbohong kepada pemberi pinjamannya ketika memberikan klaim pendapatan sebesar jutaan dolar dengan tujuan untuk mendapatkan pinjaman untuk membeli barang – barang seperti pesawat jet koorporat senilai $2,5 juta. Yang pada kenyataannya, pendapatan perusahaan tersebut tidak pernah melampaui $100.000. Apakah yang dijual Lacrad? Khotbah keagaamaan dan CD rohani?

Dengan hilangnya etika yang sangat umum saat ini, apakah yang dapat dilakukan untuk memulihkan kepercayaan pada system pasar bebas dan pemimpin secara umum? Pertama mereka yang telah melanggar hokum harus dihukum sesuai dengan kejahatannya. Menahan pemimpin bisnis, memborgol mereka, dan mengirim mereka ke penjara mungkin nampak kasar, tetapi inilah langkah pertama untuk memperlihatkan kepada public bahwa sudah waktunya untuk bersikap serius terhadap perilaku legal dan etis dalam bisnis. Tidak seorangpun berada  di atas hukum : tidak orang religious, tidak orang pemerintah, dan tidak juga pelaku bisnis. Hukum baru yang membuat catatan akuntansi lebih transparan (mudah dibaca dan dipahami) dan membuat pelaku bisnis dan yang lainnya lebih bertanggung jawab dapat membantu. Akan tetapi hukum tidak membuat orang lain jujur, dipercaya, dan mengatakan hal yang sebenarnya. Jika hukum sendiri merupakan pencegah yang besar akan terdapat jauh lebih sedikit criminal di bandingkan yang ada sekarang ini.

Bahaya dari menulis hukum baru untuk mengoreksi perilaku adalah bahwa orang dapat mulai berfikir bahwa semua perilaku yang berada dalam hukum juga dapat diterima. Ukuran perilaku, kemudian menjadi “ Legal atau Tidak? ” Suatu masyarakat akan mendapat kesulitan ketika menganggap etika dan legalitas adalah sama. Etika dan legalitas adalah hal yang berbeda. Meskipun mematuhi hukum adalah langkah pertama yang penting, perilaku etis membutuhkan lebih dari pada itu. Etika mencerminkan hubungan orang yang sepantasnya dengan satu sama lain. Legalitas adalah lebih sempit. Legalitas merujuk pada hukum yang telah kita tulis untuk melindungi diri kita dari penipuan, pencurian, dan kekerasan. Banyak tindakan tidak bermoral dan tidak etis yang berada dalam hukum kita.

Standar Etis Merupakan Fundamental

Kita mendefinisikan etika (ethics) sebagai standar perilaku bermoral, yaitu perilaku yang diterima oleh masyarakat sebagai benar versus salah. Banyak orang Amerika sekarang ini mempunyai sedikit nilai moral yang absolut. Dan banyak yang memutuskan secara situasional apakah boleh untuk mencuri, berbohong, atau minum, dan mengemudi. Hal itu adalah jenis pemikiran yang telah menyebabkan skandal – skandal dalam pemerintahan bisnis akhir – akhir ini.
Dinegara seperti Amerika Serikat, dengan begitu banyak kultur yang beragam, Anda mungkin menganggap tidak mungkin untuk memperkenalkan standar umum perilaku etis ; Akan tetapi, diantara sumber – sumber dari berbagai waktu dan tempat seperti Kitab suci, Ethics dari Aristoteles, King Lear dan William Shakespeare, Quran, dan Analects dari Konfusius ; Anda akan menemukan pernyataan nilai moral dasar sebagai berikut ; Integritas, rasa hormat kepada kehidupan manusia, pengendalian diri, kejujuran, keberanian, dan pengorbanan adalah benar ; penipuan, menjadi pengecut, dan kekejaman adalah salah. Selanjutnya agama besar dunia mendukung versinya masing – masing dari Aturan emas, bahkan hanya dinyatakan dalam bentuk negative ; Jangan melakukan kepada orang lain apa yang Anda tidak ingin mereka lakukan kepada Anda.

Etika Dimulai dari Kita Masing - masing

Mudah untuk mengkritik para pemimpin bisnis dan politik untuk kekurangan moral dan etis mereka, tetapi kita harus berhati – hati dalam kritik kita untuk memperhatikan bahwa orang Amerika secara umum tidaklah selalu sejujur dan terhormat seperti yang seharusnya. Satu studi mengungkapkan bahwa dua per tiga dari populasi Amerika mealporkan tidak pernah memberikan waktu kepada komunitas tempat mereka tinggal. Hampir sepertiga mengatakan mereka tidak pernah berkontribusi pada amal. Baik manajer dan pekerja menyatakan etika manajerial yang rendah sebagai penyebab utama dari permasalahan dalam persaingan bisnis Amerika . Para karyawan melaporkan bahwa mereka acap kali melanggar standar keselamatan dan menghindari pekerjaan sebanyak tujuh jam setiap minggu.

Hal yang sehat ketika mendiskusikan isu moral dan etis untuk ingat bahwa perilaku etis dimulai dengan Anda dan saya. Kita tidak dapat mengharapkan masyarakat untuk menjadi lebih bermoral dan etis kecuali kita sendiri sebagai individu berkomitmen untuk menjadi lebih bermoral dan etis.
Terkadang anda di posisikan di dalam situasi yang disebut diema etis dimana tidak terdapat alternative yang diperlukan karena Anda harus memilih antara alternative – alternative yang sama tidak memuaskannya. Untuk memelihara keseimbangan antara etika dan tujuan lainnya, seperti menyenangkan pemangku kepentingan atau memajukan karier Anda sangat sulit. Dengan menanyakan pada diri anda pertanyaan – pertanyaan berikut ini ;

1.     Apakah hal itu Legal? Apakah saya melanggar hukum atau kebijakan perusahaan?
2.     Apakah hal itu seimbang? Apakah saya bertindak adil?
3.     Bagaimana tindakan tersebut akan memengaruhi perasaan saya terhadap saya sendiri?

Tidak ada solusi yang mudah pada dilemma etis. Individu dan perusahaan yang mengembangkan kode etika yang kuat dan menggunakan ketiga pertanyaan uji etika di atas mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk berperilaku etis dibandingkan kebanyakan orang.


MENGELOLA BISNIS SECARA ETIS DAN BERTANGGUNG JAWAB 

Etika organisasi dimulai dari puncak. Etika adalah sesuatu yang ditangkap dan bukan dikatakan. Maksudnya, orang mengetahui standard dan nilai mereka yang mengamati apa yang dilakukan orang lain, bukan dari mendengarkan apa yang mereka katakan. Hal ini terjadi dalam bisnis dan di rumah. Kepemimpinan dan contoh dari manajer puncak yang kuat dapat membantu menanamkan nilai koorporat dalam karyawannya yang tidak etis dengan kegagalan kepemimpinan organisasi dalam menetapkan standard an kultur etis.
Segala keparcayaan dan kooperasi antara pekerja dam manajer haruslah didasarkan pada keadilan, kejujuran, keterbukaan, dan integritas moral. Hal yang sama dapat dikatakan mengenai hubungan antara bisnis dan antara Negara. Sebuah bisnis harus dikelola secara etis karena banyak alasan ; untuk memelihara reputasi baik; untuk mempertahankan pelanggan yang ada ; untuk menarik pelangganbaru ; menghindari campur tangan pemerintah (peralihan hukum dan regulasi baru yang mengendalikan aktivitas bisnis) ; untuk menyenangkan pelanggan, karyawan, dan masyarakat ; dan untuk melakukan hal yang benar. Dan individu – individu biasanya tidak bertindak sendiri; mereka membutuhkan kerjasama, implisit, atau bahkan langsung, dari orang lain untuk mewujudkan perilaku etis.

Menetapkan Standar Etis Korporat

Kode etika korporat saat ini sedang popular. Delapan puluh sembilan persen dari organisasi yang di survey akhir – akhir ini mempunyai kode etika tertulis dan bervariasi. Kode etika diklasifikasikan menjadi dua kategori utama ;

  • ·        Kode etika berbasis kepatuhan (compliance – based ethics code)

Menekankan pencegahan perilaku yang melanggar hukum dengan meningkatkan control dan dengan memberikan sanksi kepada yang melanggar.

  • ·        Kode etika berbasis Integritas (integrity – based ethics codes)

Mendefinisikan nilai – nilai panduan organisasi, menciptakan sebuah  akuntabilitas bersama antar karyawan.

Sebuah factor penting terhadap keberhasilan penegakan kode etika adalah pemilihan pejabat  etika. Pejabat etika yang paling efektif akan menetapkan nada positif, berkomunikasi dengan efektif, dan berhubungan dengan karyawan pada setiap tingkat dalam perusahaan.


Tanggung Jawab Sosial Korporat

Tanggung jawab social korporat (corporate social responbility - CSR) adalah perhatian yang dimiliki bisnis terhadap kesejahteraan masyarakat. Tanggung jawan ini didasarkan pada perhatian perusahaan bagi keejahteraan semua pemangku kepentingannya, tidak hanya pemiliknya.
Kinerja social sebuah perusahaan mempunyai beberapa dimensi ;

  1. ·        Filantropi korporat (corporate philanthrophy) meliputi sumbangan amal kepada semua jenis kelompok nirlaba
  2. ·        Inisiatif social korporat (corporate social initiatives) meliputi bentuk lanjut dari filantropi korporat.
  3. ·        Tanggung jawab korporat (corporate responbility) meliputi semuanya dari memperkerjakan pekerja minoritas hingga membuat produk yang aman, meminimalkan polusi, menggunakan energy dengan bijaksana, dan menyediakan lingkungan yang aman – pada dasarnya semua hal yang berkaitan dengan bertindak penuh tanggung jawab dalam masyarakat.
  4. ·        Kebijakan korporat (corporate policy) merujuk pada posisi yang diambil perusahaan pada isu social dan politik

·         
Tanggung jawab social korporat meliputi ;

1.     Tanggung jawab terhadap pelanggan
2.     Tanggung jawab terhadap investor
3.     Tanggung jawab terhadap karyawan
4.     Tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan


AUDIT SOSIAL

Audit social (social auditing) adalah sebuah evaluasi sistematis dari kemajuan organisasi menuju penerapan program yang bertanggung jawab dan responsive secara social. Namun satu dari masalah utama dalam melakukan audit social adalah menetapkan prosedur – prosedur untuk mengukur aktivitas sebuah perusahaan dan pengaruhnya pada masyarakat.

Secara umum, tanggung jawab social menjadi salah satu aspek dari keberhasilan korporat yang di evaluasi, di ukur, dan dikembangkan oleh bisnis. Selain audit social yang dilakukan oleh perusahan itu sendiri, terdapat empat jenis kelompok yang berfungsi sebagai pengawas berkenaan dengan seberapa baik perusahaan menegakkan kebijakan etis dan tanggung jawab social mereka :

1.     Investor yang sadar secara social yang menekankan bahwa perusahaan memperluas standar tingginya ke semua pemasoknya.
2.     Pemeduli lingkungan (enviromentalist) yang memberikan tekanan dengan menyebutkan nama perusahaan yang tidak masuk dalam standar pemeduli lingkungan tersebut.
3.     Pejabat serikat buruh yang memburu pelanggaran dan memaksa perusahaan untuk patuh untuk menghindari publisitas negative.
4.     Pelanggan yang menganggap serius jika sebuah perusahaan melakukan apa yang menurut mereka merupakan praktik yang tidak etis atau tidak bertanggung jawab secara social.

 







Understanding Business (Pengantar Bisnis),edisi 8 (terjemahan), William G. Nickels, James M. McHugh, Susan M. McHugh,  Penerbit Salemba Empat, 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar